Bismillaahirrahmaanirrahiim. Blog ini : Hanya barisan kata, bersemangat merajut makna, entah dibaca atau hanya dilewati saja ...............persembahan, menjahit pagi
Sunday, 30 September 2012
Tuesday, 25 September 2012
Siluet rasa
Tak sengaja ku temukan kembali keunikan puzzle kehidupan
yang mengalir menjauhi hulu..
biarlah serpihannya kurekatkan
agar tampak sisa ingatan akan kebaikan cinta-Nya
agar tak jadi hamba yang kufur
mengingat kembali riuh rendah pagi..
ayam berkokok, gemericik air suci membasuh muka..
dan bisikan membangunkan, nduk bangun..tahajud dulu
sungguh tak serta merta ku iyakan panggilan itu,
satu..dua..dan ketiga kalinya baru ku terjaga..
masih 11 tahun waktu itu.
Tak hendak bermaksud sampai kesana, tapi angan menerbangkan debu di otak
yang kini telah menghitam, mengerak..
Baiklah, mari sejenak kita monolog tentang senja.
Apa yang kau tahu tentang senja kawan?
adakah awan perak dengan mentari yang hendak tenggelam?
adakah keceriaan riuh rendah anak anak desa belajar mengeja huruf-huruf Al qur'an?
dengan sang ustadz yang menggendong anaknya?
ataukah kesendirian menanti adzan magrib bersama segelas teh manis dan dua buah pisang tak digoreng?
Apapun..dalam keadaan apapun, gerimis ataukah hujan lebat..aku tetap menyukainya
menyukai senja..bersama berjuta latar yang mengiringiya
kadang ada serombongan bebek lewat depan rumah..kadang ada penjual bakso yang lewat begitu saja
kadang ada juga pelangi yang bersenandung di hati.
Apapun goresan senja..aku tahu Sang Pelukislah yang menghadirkan berjuta warna yang tak kutahu
dari mana mulanya..
Bersyukur atas segala rasa yang sudah dan belum terasa..makna yang belum ataupun sudah merekah
menghadirkan syukur tak berujung.
pantaskah aku mengeluh?
yang mengalir menjauhi hulu..
biarlah serpihannya kurekatkan
agar tampak sisa ingatan akan kebaikan cinta-Nya
agar tak jadi hamba yang kufur
mengingat kembali riuh rendah pagi..
ayam berkokok, gemericik air suci membasuh muka..
dan bisikan membangunkan, nduk bangun..tahajud dulu
sungguh tak serta merta ku iyakan panggilan itu,
satu..dua..dan ketiga kalinya baru ku terjaga..
masih 11 tahun waktu itu.
Tak hendak bermaksud sampai kesana, tapi angan menerbangkan debu di otak
yang kini telah menghitam, mengerak..
Baiklah, mari sejenak kita monolog tentang senja.
Apa yang kau tahu tentang senja kawan?
adakah awan perak dengan mentari yang hendak tenggelam?
adakah keceriaan riuh rendah anak anak desa belajar mengeja huruf-huruf Al qur'an?
dengan sang ustadz yang menggendong anaknya?
ataukah kesendirian menanti adzan magrib bersama segelas teh manis dan dua buah pisang tak digoreng?
Apapun..dalam keadaan apapun, gerimis ataukah hujan lebat..aku tetap menyukainya
menyukai senja..bersama berjuta latar yang mengiringiya
kadang ada serombongan bebek lewat depan rumah..kadang ada penjual bakso yang lewat begitu saja
kadang ada juga pelangi yang bersenandung di hati.
Apapun goresan senja..aku tahu Sang Pelukislah yang menghadirkan berjuta warna yang tak kutahu
dari mana mulanya..
Bersyukur atas segala rasa yang sudah dan belum terasa..makna yang belum ataupun sudah merekah
menghadirkan syukur tak berujung.
pantaskah aku mengeluh?
kembangkan sayapmu, terbanglah kemana angin mengarahkanmu
pergilah, kan kau temukan kerabat baru disana..yang menyayangimu,
mencintaimu dengan ketulusan embun menembus sejuk pagi
menjagamu, yang mampu membuatmu belajar,
mampu membuatmu bersyukur..
Membuatmu lebih bermanfaat sebagai manusia..
Tetaplah terjaga disana.. terjaga mencintai Rabb..
Shalawat salam pada Rasul terakhir tercinta..
jangan khawatir, pahala kebaikanmu kan mengalir pada orang yang kau tinggalkan
di ujung dinegeri asalmu..pada orang yang mengasihimu di waktu kecilmu
yang mempersiapkanmu menghadapi riuh fana dunia..
yang mendidikmu berakhlak mulia..
hingga kau tegak diatas kakimu sendiri, atas ijin-Nya
Sunday, 23 September 2012
Separuh matang atau separuh tidak matang
Bismillaah
Stroberi ini setengah matang atau setengah tidak matang?
( foto pribadi di agrowisata pasrujambe-senduro, Lumajang***outbond/21092012 )
agak manis atau agak asam?
Alhamdulillaah...
*Kita dialogkan lain kali saja, insyaAllah.
Stroberi ini setengah matang atau setengah tidak matang?
( foto pribadi di agrowisata pasrujambe-senduro, Lumajang***outbond/21092012 )
agak manis atau agak asam?
Alhamdulillaah...
*Kita dialogkan lain kali saja, insyaAllah.
Tuesday, 18 September 2012
kerudung kelelewar
Wushhh..wushhh, angin menerpa wajah kami.
Pagi itu cerah sekali, langit biru dengan serpihan kapas putih melayang..Ah ini surga..
Bergegas kami keluar dari gerbang pesantren ini, tentu saja menuju sekolah kami di luar pesantren. Tertawa penuh canda, memang waktu itu kami masih smp. Kami yaitu aku, kawanku bernama yayuk, fitri dan nur berjalan beriringan, dua dua. aku dan yayuk di depan. Sementara fitri dan nur di belakang. Aku dan nur berasal dari desa yang sama sebelum akhirnya dibagi menjadi dua desa, karena terlalu luas daerahnya. Sedangkan Yayuk dan fitri masih saudara sepupu.
Kami terus berjalan sambil bercerita apa saja, antri kamar mandi, santri baru yang keren di pesantren putra, sampai tentang serunya bercerita semalam. Kami hampir sampai di sekolah ketika tiba tiba, ada seorang perempuan berbaju panjang dan berkerudung lebar lewat berlawanan dengan arah jalan kami. Sontak karena baru lihat sekali itu, langsung saja aku bilang, itu kerudungnya mirip kelelawar ya. Esoknya mbak mbak perempuan itu lewat lagi dan sering lewat. Kami sering membicarakannya, aneh, seperti kabanyakan kain begitu, pokoknya mirip kelelawarlah.
(gambar di ambil dari kartun.web.id)
Selang setahun kemudian, kami meninggalkan pesantren. Masing masing mengejar sma pilihannya. waktu itu nem-ku lumayanlah. Bisa kalau untuk masuk sma favorit di kotaku. Tapi seorang sepupuku tak mau sekolah di sma itu. Terlalu jauh dan enggan bersaing dengan kebanyakan anak orang kaya disana, gitu katanya. Aku mengikuti sepupuku untuk bersekolah di SMAN biasa saja, ndak terlalu jauh juga dari rumah, mudah dijangkau karena naik angkot sekali dan berjalan sedikit saja. Yang jelas tetap menantang matahari setiap pagi, alias berjalan ke arah timur dengan memicingkan mata dan tangan membentuk kipas menghadap kebawah diatas kening. Kalau kamu tidak bisa membayangkan, ingatkah sikap hormat setiap kali bendera bangsa kita tercinta dinaikkan pada saat upacara. Ya, seperti itulah tanganku setiap pagi seperti hormat pada matahari tua renta yang bijaksana
Di sekolah ini, aku bertemu seorang mbak yang sama penampilannya dengan mbak berkerudung kelelawar-pada waktu smp dulu. Darinya kupesan majalah Islam, Annida. Mulai dari sekolah ini kukenal dunia kerohanian Islam. memahami Islam dengan majalah Islam remaja Annida sangatlah menyenangkan, beberapa kali aku bertanya pada mbk berkerudung kelelawar, ternyata namanya mbak Ni'mah. Dia yang sering mengobarkan keislaman yang benar padaku. Dari sinilah kemudian kukenal semangat Islam. Dan akhirnya, aku memakai kerudung kelelawar juga. Oh noo..bukankah aku duu sangat membencinya? Ya Rabb, ampuni kami. mbak berkerudung kelelawar, maafkan kami ya..aku tak hafal lagi wajahnya. Siapa namanya, dimana rumahya. Oh iya, kami memang tak sempat berkenalan.
semoga Allah mengaruniakan keistiqomahan kita di jalan yang benar ini. Meski aku telah berlalu dari partai kita semua, aku tetap salut akan semangat da'wahnya. Semoga yang menyimpang dapat lurus kembali.
"Bisa jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu"
memori kerudung kelelawar-semoga tetap istiqomah
Monday, 17 September 2012
Ini rutinitas pagiku, mana pagimu
Jalanan lengang, masih berangin dan mengibaskan jilbab oranyeku. Tentu saja waktu itu memang berangin. Cukup kencang memang, bahkan sebuah saung tempat pengumpulan tembakau petani hancur dan kini tak ada lagi. Sebuah pohon pisang yang berdiri di pematang sawahpun turut merasakan sapaan angin kala itu. Daun-daunnya tersapa dan meninggalkan jejak berupa pahatan sisir. Jadilah si daun pisang mirip dengan pohon kelapa.
Masih pagi saat ku paksakan tsaBEATa melewati jalan disawah yang menghubungkan desaku dengan desa sebelah. Ada tiupan kencang yang memaksa tsaBEATa oleng ke kanan. Tidak, kupaksakan saja tsaBEATa melaju. Tak mau kalah dengan angin, kulajukan tsaBEATa dengan lebih kencang lagi. wiut wiut wiut..melewati hamparan sawah yang sebagian masih terendam air pra penanaman padi. Dan melewati pula saung tempat petani melepas lelahnya. Ingin rasanya aku bernaung disaung itu untuk sekedar melepas ketakutan belaian kencang si angin pagi itu. Tapi tidak, siswaku menunggu di sekolah. Jadi ia tetap melaju di jalan yang membelah sawah menjadi dua. Tapi kenapa pagi itu begitu sepi? ah, biarlah. semakin kencanglah melajunya tsaBEATa.
Sudah beberapa kali orang-orang memperingatkan aku agar tak lewat jalan di sawah. Alhamdulillaah..Jalan sawah ini halus, di aspal sampai tiga perempatnya. Sedang seperempatnya lagi sudah masuk desa sebelah. Dan orang desa sebelah tak mau menghaluskan jalan sawah ini. Tak ada uang katanya. Tapi lumayan masih bisa di gunakan. Ada banyak cerita perampokan motor disana. Bahkan, ponakanku yang saat itu sekolah naik motor tak berani lewat sawah. Ponakanku ini lebih memilih jalan memutar melewati desa sebelah. Meski jalannya amburadul, penuh lobang besar. Menurut dia lebih aman. Tapi menurutku lebih nyaman saja, dengan kecepatan tinggi, jaket besar, helm besar, penutup wajah dan kacamata hitam. safety riding-lah. Melajulah si tsaBEATa membelah hamparan padi yang indah.. Sambil sesekali kupelankan sekedar menyapa buruh tani yang tengah sarapan pagi di pinggiran sawah.
Aku berlindung pada Allah Pencipta alam semesta, dari kejahatan makhlukNya..
Subhaanalladzii sakhkhoro lanaa haadza wama kunnaa lahuu muqriniin..wa inna ila robbinaa lamunqolibuun.
InsyaAllah,
Subscribe to:
Comments (Atom)




