Monday, 17 September 2012

Ini rutinitas pagiku, mana pagimu

Jalanan lengang, masih berangin dan mengibaskan jilbab oranyeku. Tentu saja waktu itu memang berangin. Cukup kencang memang, bahkan sebuah saung tempat pengumpulan tembakau petani hancur dan kini tak ada lagi. Sebuah pohon pisang yang berdiri di pematang sawahpun turut merasakan sapaan angin kala itu. Daun-daunnya tersapa dan meninggalkan jejak berupa pahatan sisir. Jadilah si daun pisang mirip dengan pohon kelapa.

Masih pagi saat ku paksakan tsaBEATa melewati jalan disawah yang menghubungkan desaku dengan desa sebelah. Ada tiupan kencang yang memaksa tsaBEATa oleng ke kanan. Tidak, kupaksakan saja tsaBEATa melaju. Tak mau kalah dengan angin, kulajukan  tsaBEATa dengan lebih kencang lagi. wiut wiut wiut..melewati hamparan sawah yang sebagian masih terendam air pra penanaman padi. Dan melewati pula saung tempat petani melepas lelahnya. Ingin rasanya aku bernaung disaung itu untuk sekedar melepas ketakutan belaian kencang si angin pagi itu. Tapi tidak, siswaku menunggu di sekolah. Jadi ia tetap melaju di jalan yang membelah sawah menjadi dua. Tapi kenapa pagi itu begitu sepi? ah, biarlah. semakin kencanglah melajunya tsaBEATa.

Sudah beberapa kali orang-orang memperingatkan aku agar tak lewat jalan di sawah. Alhamdulillaah..Jalan sawah ini halus, di aspal sampai tiga perempatnya. Sedang seperempatnya lagi sudah masuk desa sebelah. Dan orang desa sebelah tak mau menghaluskan jalan sawah ini. Tak ada uang katanya. Tapi lumayan masih bisa di gunakan. Ada banyak cerita perampokan motor disana. Bahkan, ponakanku yang saat itu sekolah naik motor tak berani lewat sawah. Ponakanku ini lebih memilih jalan memutar melewati desa sebelah. Meski jalannya amburadul, penuh lobang besar. Menurut dia lebih aman. Tapi menurutku lebih nyaman saja, dengan kecepatan tinggi, jaket besar, helm besar, penutup wajah dan kacamata hitam. safety riding-lah. Melajulah si tsaBEATa membelah hamparan padi yang indah.. Sambil sesekali kupelankan sekedar menyapa buruh tani yang tengah sarapan pagi di pinggiran sawah. 

Aku berlindung pada Allah Pencipta alam semesta, dari kejahatan makhlukNya..
Subhaanalladzii sakhkhoro lanaa haadza wama kunnaa lahuu muqriniin..wa inna ila robbinaa lamunqolibuun.
InsyaAllah,

No comments:

Post a Comment