Wushhh..wushhh, angin menerpa wajah kami.
Pagi itu cerah sekali, langit biru dengan serpihan kapas putih melayang..Ah ini surga..
Bergegas kami keluar dari gerbang pesantren ini, tentu saja menuju sekolah kami di luar pesantren. Tertawa penuh canda, memang waktu itu kami masih smp. Kami yaitu aku, kawanku bernama yayuk, fitri dan nur berjalan beriringan, dua dua. aku dan yayuk di depan. Sementara fitri dan nur di belakang. Aku dan nur berasal dari desa yang sama sebelum akhirnya dibagi menjadi dua desa, karena terlalu luas daerahnya. Sedangkan Yayuk dan fitri masih saudara sepupu.
Kami terus berjalan sambil bercerita apa saja, antri kamar mandi, santri baru yang keren di pesantren putra, sampai tentang serunya bercerita semalam. Kami hampir sampai di sekolah ketika tiba tiba, ada seorang perempuan berbaju panjang dan berkerudung lebar lewat berlawanan dengan arah jalan kami. Sontak karena baru lihat sekali itu, langsung saja aku bilang, itu kerudungnya mirip kelelawar ya. Esoknya mbak mbak perempuan itu lewat lagi dan sering lewat. Kami sering membicarakannya, aneh, seperti kabanyakan kain begitu, pokoknya mirip kelelawarlah.
(gambar di ambil dari kartun.web.id)
Selang setahun kemudian, kami meninggalkan pesantren. Masing masing mengejar sma pilihannya. waktu itu nem-ku lumayanlah. Bisa kalau untuk masuk sma favorit di kotaku. Tapi seorang sepupuku tak mau sekolah di sma itu. Terlalu jauh dan enggan bersaing dengan kebanyakan anak orang kaya disana, gitu katanya. Aku mengikuti sepupuku untuk bersekolah di SMAN biasa saja, ndak terlalu jauh juga dari rumah, mudah dijangkau karena naik angkot sekali dan berjalan sedikit saja. Yang jelas tetap menantang matahari setiap pagi, alias berjalan ke arah timur dengan memicingkan mata dan tangan membentuk kipas menghadap kebawah diatas kening. Kalau kamu tidak bisa membayangkan, ingatkah sikap hormat setiap kali bendera bangsa kita tercinta dinaikkan pada saat upacara. Ya, seperti itulah tanganku setiap pagi seperti hormat pada matahari tua renta yang bijaksana
Di sekolah ini, aku bertemu seorang mbak yang sama penampilannya dengan mbak berkerudung kelelawar-pada waktu smp dulu. Darinya kupesan majalah Islam, Annida. Mulai dari sekolah ini kukenal dunia kerohanian Islam. memahami Islam dengan majalah Islam remaja Annida sangatlah menyenangkan, beberapa kali aku bertanya pada mbk berkerudung kelelawar, ternyata namanya mbak Ni'mah. Dia yang sering mengobarkan keislaman yang benar padaku. Dari sinilah kemudian kukenal semangat Islam. Dan akhirnya, aku memakai kerudung kelelawar juga. Oh noo..bukankah aku duu sangat membencinya? Ya Rabb, ampuni kami. mbak berkerudung kelelawar, maafkan kami ya..aku tak hafal lagi wajahnya. Siapa namanya, dimana rumahya. Oh iya, kami memang tak sempat berkenalan.
semoga Allah mengaruniakan keistiqomahan kita di jalan yang benar ini. Meski aku telah berlalu dari partai kita semua, aku tetap salut akan semangat da'wahnya. Semoga yang menyimpang dapat lurus kembali.
"Bisa jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu"
memori kerudung kelelawar-semoga tetap istiqomah

No comments:
Post a Comment