Sunday, 10 March 2013

air mata pelagiku

ada yang mengalir di sudut mata pelanggi
membiarkan hutan di gunung kidul itu meranggas
mengelupas habis rambutnya
si belang berlarian tak menentu..hingga sampai ia di pojokan kampung si paiman, mengaum mengamuk
lalu menerjang segala yang ada bersama si moncong merah milik oposisi sang penguasa negeri
ada diantaranya terguling bersama mbah si paiman, mereka berdarah dan sama sama menghembuskan darah.

air mata pelangi sore itu semakin deras, menerjang kampung kampung. hiruk pikuk manusia bukan kembali ke rumahnya setelah pulang dari bekerja, anak anak pergi mengaji terhanyut, rumput rumput merelakan dirinya terinjak kerbau tenggelam , meski akarnya tak turut tercabut..tapi tanahnya telah tergerus air mata sang pelangi.

Desaku hanyut

 Aku menangis menderu badai, memakan gelegak lumpur menghitam, berkali kali mukaku tertampar kayu, entah kayu mentah atau telah masak serupa kursi bang ripun si penjahit yang tak pernah luput dari sholat berjamaah.
Apakah engkau ingin kusapa cinta? mengapa kau mendadak muncul di dahiku, tepat didepanku? apakah kau rindu padaku? rindu celotehan asalku yang juga merindukanmu. Tapi mulutku hanya bisa menganga menelan air tercampur lumpur. Ah, cinta..aku tak mampu menggapaimu..kau terus melaju, dan aku mengikutimu dengan lirikan mataku. saja..




No comments:

Post a Comment