Tuesday, 30 October 2012

Hujan, Aku Rindu

Awan hitam menyelimuti langit biruku, menutupi indahnya si cantik di angkasa..hawa panas sekali.Sungguh hawa seperti hujan akan segera menyapa rerumputan yang telah merindukan kedatangannya setelah berbulan bulan mencoba bertahan hidup di kekeringan kemarau panjang..

Alhamdulillaah, aku juga sangat merindukan hujan. Hujan yang akan segera membasahi tanahku..dan kuhirup bau tanah yang basah..hmmm kubayangkan sambil menghirup nafas. Kurasakan hawa makin panas dan membuat siswa di kelasku kegerahan. Padahal AC nyala, sehingga kunyalakan pula kipas angin disamping kiriku. wushhhh wushhhhh...memutar dia menghadap ke anak anak. Ku tekan tombol nomer 3 yang artinya paling banter muternya. Subhanallaah..di tempatku sedikit mereda memang panasnya. Tapi tidak dengan anak anak. Mungkin karena tempatnya yang agak berjauhan dengan kipas angin, membuat angin dari kipas angin tak mampu menjangkau anak anak. Ya Rabb..turunkanlah hujan kepada kami...

Beberapa hari sudah hawa panas mengurung bumi kami, Oh.mungkin kami di uji dengan hawa panas yang menyengat seperti ini. sabar ataukah tidak..

Khasiban naasu an-yutrakuu an-yaquuluu aamannaa wahum laa yuftanuun.・Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan saja setelah mengatakan kami telah beriman・sedang mereka tidak diuji lagi?・

Beberapa hari yang membuat kami mesti betah di depan kipas angin, entah masuk angin atau tidak..yang penting tak gerah badan kami. Siswa berebut berdiri di depan kipas angin. Subhanallaah..

Menjelang idul adha, hujan tak jua turun..Ya Rabb..bau kambing sisa qurban kami disekolah masih mengambang di depan hidung. Setiap kami ke parkiran baunya semakin menyengat. Benar memang, hewan qurban kami di boleng (di kuliti) di parkiran di sekolah kami. Kata seorang teman, bau kambing bisa hilang jika saja hujan datang.Ya Rabb, mendung tak berarti hujankah?
Aku terfikir, apakah ini sebuah adzab untuk memperingatkan kami? ya, bisa saja..mengingat maraknya kemaksiatan yang ada di bumi. Astaghfirullaahal'adziim, mari beristighfar..ampunkan dosa kami Ya Rabb..

Hingga pada esok harinya kami di undang ke pernikahan rekan kerja, di sebuah desa di kaki gunung semeru...di sana hujan deras..Alhamdulillaah, kami merasakan hujan juga setelah hawa panas sekian hari..Allahumma shayyiban naafi'aa..Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat. Aamiin.  Dalam perjalanan kembali ke kota seorang teman berkata, mungkin di kota tak hujan, Ustadzah. Kujawab, Alhamdulillaah.Ya mungkin saja, tapi setidaknya telah merasakan hujan di sini, meski sebentar..hmmm sejuuuuuk..Aku benar benar menikmati perjalanan hujan ini...Alhamdulillaah

Di kota ternyata hujan gerimis...
Sungguh orang yang menghalangi hujan ini telah dikalahkan oleh ilmunya Allah. Nyarang hujannya ndak mempan. demikian seorang teman berkata. Akhirnya ku stater tsaBEATa ku pulang meski gerimis menerpa jilbab selama perjalanan ke rumah. Senangnya aku berhujan hujanan di hujan pertama mungkin (terasanya). Sampai mendekati desaku, tak kurasakan lagi tetesan air yang turun yang kusebut sebagai hujan...tak ada..
hiks hiks...Tanah di rumahku kering, kering, kering....ternyata daerah rumahku tak hujan. mungkin dosa kami terlalu banyak, hingga rahmat Allah..si hujan enggan menyapa daerah kami...astaghfirullaahal'adziim. Tapi kata ayahku, tadi hujan, cuma gerudukk geruduk begitu. selesai. Ya Rabb...ampuni kami. ampuni kami...ampuni kami...Ya Rabb, semoga Engkau berkenan merahmati kami.



No comments:

Post a Comment